Lompat ke isi utama

Berita

MENYUSURI JEJAK YANG TERLUPA DARI SEJARAH PEMILU INDONESIA

Bawaslu Bengkayang

Suasana Bedah Film Sejarah Pemilu di Indonesia di Sekretariat Bawaslu Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Pagi yang abu-abu menyelimuti sudut-sudut Kota Bengkayang saat jarum jam merayap ke angka sembilan. Mendung yang menggantung rendah di cakrawala seolah meredam kebisingan kota dari balik pegunungan, menyisakan senyap yang menjalar hingga ke dinding ruang rapat kantor Bawaslu. 

Di dalam ruangan, Alif Kusuma, Yosua, dan Viktor tampak sibuk, tangan mereka cekatan mengatur fokus proyektor, dan sound system. Belasan staf lainnya sudah duduk rapi menanti film dokumenter yang membuat penasaran. 

Cahaya dari lampu ruangan perlahan meredup, menyisakan pendar layar tancap modern yang siap mengantar para punggawa Bawaslu Bengkayang menembus lorong waktu sejarah Pemilu di Indonesia dari sebuah Film Dokumenter pada Rabu,(28/1/2026).

Tepat pukul 09.05 WIB, cahaya proyektor membelah kegelapan, menampilkan potongan-potongan gambar kusam dari masa lalu yang nyaris terlupakan. Seluruh jajaran Bawaslu Bengkayang, dari pimpinan hingga staf, duduk terpatri dalam keheningan yang dalam. 

Mereka tidak sedang menunggu hasil hitung cepat, melainkan sedang "pulang" ke masa lalu melalui film dokumenter sejarah pemilu dan demokrasi Indonesia.

𝗠𝗲𝗻𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗿𝗶𝗻 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗹𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂

Bawaslu Bengkayang

 

Ketika film mulai diputar, suasana ruangan yang tenang berubah menjadi medan refleksi. Gambar-gambar hitam putih tentang pemilu pertama tahun 1955 hingga dinamika politik era reformasi berkelindan di layar besar. 

Satu jam berlalu, dua film selesai. Ketua Bawaslu Bengkayang, Susanti memantik diskusi agar semua penonton yang hadir mengemukakan tangkapan apa yang mereka peroleh dari menit-menit film yang baru saja disaksikan. Ia didampingi Landung Atmanto, Anggota Bawaslu Bengkayang yang ikut memantik diskusi menjadi lebih menarik.

Matanya tak sekadar menonton. Tatapannya tajam, seolah sedang membedah setiap transisi sejarah untuk mencari benang merah antara kegelisahan masa silam dengan beban pengawasan di pundaknya hari ini.

"Pemilu bukan sekadar agenda lima tahunan," bisik sebuah narasi dalam diskusi tersebut, "Itu adalah proses politik yang mencerminkan wajah asli demokrasi kita." Kalimat itu menggema, menjadi roh yang seketika menghidupkan suasana.

Moderator acara, Chyntia Maharani tampak komunikatif memandu jalannya acara, menjaga alur cerita tetap bernapas, memastikan setiap adegan sejarah tidak lewat begitu saja tanpa makna.

Bagi belasan orang di ruangan itu, ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban kantor. Ini adalah "pendakian" intelektual di masa tenang. 

𝗗𝗲𝗯𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗧𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗟𝗮𝗺𝗽𝘂

Bawaslu Bengkayang

Diskusi pun pecah, dinamis dan tanpa sekat selama dua jam penuh. Di bawah temaram lampu proyektor, terjadi tarik-ulur pandangan yang memikat. Beberapa staf bicara dengan nada optimis, menyebut pemilu hari ini sudah jauh lebih benderang dan terbuka. 

Selain itu, suara-suara kritis juga menyela mengingatkan bahwa tantangan politik dan bayang-bayang kelam masa lalu masih sering kali membayangi kualitas suara rakyat.

Sajian dua film yang kontras, satu yang bicara dari sisi institusi dan satu lagi yang membedah dengan nada kritis memberi nutrisi batin bagi para pengawas ini. Mereka dipaksa untuk tidak hanya lihai menghafal aturan main (prosedural), tetapi juga menyelami kejujuran di balik hak suara (substansial).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Subbagian Pengawasan dan Hubungan Masyarakat ini menjadi bukti bahwa Bawaslu Bengkayang menolak untuk menjadi sekadar "pemadam kebakaran" saat pemilu tiba. Mereka memilih untuk menjadi institusi pembelajar yang merawat literasi politik stafnya di masa tenang.

𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗟𝗮𝘆𝗮𝗿 𝗟𝗲𝗯𝗮𝗿 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗹𝘂

Bawaslu Bengkayang

Saat lampu ruangan kembali dinyalakan, wajah-wajah staf tidak lagi sama seperti saat mereka datang. Ada pemahaman baru yang tumbuh di sana. 

Keberhasilan diskusi ini tidak hanya diukur dari habisnya suguhan atau tertatanya ruangan, melainkan dari munculnya pandangan-pandangan kritis terhadap dinamika demokrasi Indonesia yang kian kompleks.

Forum-forum reflektif ini hanyalah awal, sebuah investasi panjang untuk menjaga kewarasan pengawasan menuju Pemilu 2029.

Menyusuri jejak sejarah Pemilu bukan hanya soal belajar dari prosesnya yang dinamis, tapi yang terpenting adalah ketika Bawaslu Bengkayang mampu menemukan inspirasi baru agar pengawasan pada pemilu dan Pilkada ke depan bisa jauh lebih baik dan efektif.

Mendung mungkin masih menggantung di luar sana, namun di dalam ruangan ini, seberkas cahaya tentang pemahaman sejarah telah menyala. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya mereka yang pandai mencoblos di bilik suara, melainkan mereka yang mampu mengeja sejarah di balik lembaran surat suaranya.

 

Penulis : Chyntia Maharani